Jika anda bersikap kritis tentu anda pernah membandingkan fitur2 yang ditawarkan oleh provider hosting (terutama Indonesia) dengan web yang menawarkan jasa Free hosting.
Anda juga pasti sempat bertanya-tanya kenapa provider hosting Indonesia rata2 mahal sudah begitu fasilitas yang disediakan juga terbatas.?
Sebagai contoh di WAPERINDO paket hosting dengan fitur disk space 100mb dan bandwith 5Gb saja sudah harus membayar Rp. 50.000. Sedangkan di Free Webhosting bisa mendapatkan disk space 5GB-20GB plus bandwith melimpah ruah. Dan semua itu justru bisa didapatkan tanpa perlu membayar sepeserpun alias gratis.
Kenapa bisa demikian..? Apakah provider webhosting indonesia memang mahal atau pelit..?
Jawabannya sederhana saja.
Semuanya tak lepas dari trik promosi dan menjaring calon komsumen sebanyak mungkin. Selain menyediakan paket hosting gratis mereka pasti juga menyediakan versi paid hostingnya.
Mereka sadar bahwa pengguna layanan free hosting 99,9% adalah pengguna awam yang masih baru belajar dunia web dan hosting. Berapapun besar disk space yang disediakan oleh free webhosting sudah pasti hanya secuilnya saja yang bakal terpakai oleh konsumennya.
Logikanya tidak mungkin sesorang yang baru belajar membuat website akan sanggup membuat web yang langsung melejit ketenarannya. Ilmu laduni namanya kalau seseorang yang baru kenal CMS, Coding, HTML dan php langung sanggup menciptakan sebuah website dengan trafic tinggi dan butuh resource server yang besar.
Kalaupun pada kenyataannya logika tersebut salah, maka mudah saja bagi free webhosting tersebut. Dengan mudah mereka bisa menonaktifkan account konsumen tadi. Atau mereka akan menawarkan konsumen untuk mengupgrade ke versi paid hostingnya (premium).
Dengan demikian mereka akan berhasil mendapatkan client baru, atau minimal kalau ternyata client tersebut tetap tidak upgrade ke paket premium, pihak free hosting tetap memperoleh poin tersendiri meskipun itu hanya berwujud client sudah mengenal dan mengetahui keberadaan website mereka (free hosting).
Semoga bisa menambah wawasan kita.